PERS RELEASE
TERNYATA MASIH ADA BETAWI DI ANTARA KITA
Orang Betawi asli terkenal dengan kehidupan komunal. Setiap Lebaran, waktu seminggu masih kurang bagi Dimas jika ingin mengunjungi seluruh keluarganya walau hanya dari gang ke gang di satu Rukun Warga. Kisah orang Betawi asli menjadi nostalgia yang kerap diulang saat berkumpul dengan teman-teman masa kecil yang masih menetap di Kampung Sawah.
Dimas Agung, sutradara, mendapat darah Betawi dari garis Bapak. Masa kecilnya diisi dengan bermain bola di Haji Shibi dan mencari biji karet di lahan yang kini menjadi Hutan Kota Universitas Indonesia.
Di aula RPTRA Shibi, Dimas memutar film dokumenter bertajuk “Masih Adakah Betawi di Antara Kita?” Sebagai anak Betawi, Dimas ingin tahu pendapat budayawan Betawi melihat masa depan budayanya. “Jadi ingatlah bahwa kalian di sini bukan sekedar berlatih, tapi melestarikan budaya,” ujar Dimas di depan para penari Sanggar Anyelir, minggu lalu.
Dokumentasi : Meiliani Fauziah
Dalam durasi singkat, film ini mengungkapkan bahwa budaya lain sejak dulu sudah melingkupi kehidupan suku Betawi asli. Butuh kejelian untuk mengenali asal-muasal kesenian tertentu karena sangat banyak kisah yang terhimpun di Jakarta. Alhasil, idealisme sanggar kesenian menjadi ujung tombak pelestarian budaya Betawi.
Ruang seperti RPTRA Shibi menjadi titik temu warga yang nyata. Meski ramai pendatang, warga asli Betawi masih banyak di Kampung Sawah. Suku Betawi memang terkenal mampu beradaptasi dengan berbagai budaya yang datang ke Jakarta.
Budayawan dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan tidak semua pelaku kesenian Betawi punya trah. Baginya kehadiran para pendatang tetap perlu diantisipasi agar budaya keturunan asli tidak tergerus.
Di sisi lain, tidak semua keturunan asli Betawi ingin meneruskan warisan budaya keluarga. Padahal suatu suku bisa bertahan hidup dengan melanggengkan kisah, kesenian, tradisi, keterampilan dan adat-istiadat.
Pemilik Sanggar Kinang Putra, Andi Supardi, mengatakan bahwa dirinya menceburkan diri ke dunia seni demi menjaga trah seni topeng Kinang Putra. Sebagai generasi ketiga, seni topeng baginya memiliki aransemen dan struktur yang khas. Sanggar yang dipimpin Andi rutin tampil di acara-acara kesenian, dari panggung ke panggung. “Pada Kinang Putra ada musik, tarian, bodoran, cerita dan sastra,” katanya.
Dokumentasi : Meiliani Fauziah
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah ruang publik yang rutin menggelar kesenian tradisi Betawi. Juni lalu, puluhan sanggar turut meramaikan hari tari sedunia, termasuk diantaranya Sanggar Kinang Putra. Pengunjung bisa melihat gaya hidup suku Betawi dengan mengunjungi museum dan jajan makanan tradisional seperti tape uli, es selendang mayang dan bir pletok.
Pemerhati budaya, H. Lahyanto Nadie, mengatakan suku Betawi sudah ada jauh sejak masa kolonial. Suku Betawi berperan aktif mengusir Belanda dan Jepang. “400 ribu orang Betawi kumpul di Lapangan Ikada. Begitu lihat orang Betawi kumpul, ngeper juga orang Jepang,” ceritanya.
Akulturasi budaya menjadi benang merah terciptanya kesenian Betawi. Pendiri dan pelatih Sanggar Anyelir, Ari Sumartani, menyatakan bahwa seni secara hakekat harus mampu relevan dengan berbagai aspek kehidupan. Seni bisa dikaitkan dengan pendidikan, kesehatan, hampir segala hal.
Dengan berkesenian aktif, Ari berharap generasi muda bisa memaknai kehidupan dengan lebih bijaksana. Khususnya tari Betawi, pelakunya bisa belajar bagaimana menjalani hidup dengan santai tapi tetap menjunjung tinggi sopan-santun. “Contohnya itu ngewer. Ya, artinya bebas, lepas, tapi tetap ada batasannya,” kata Ari.
Pada acara “Mencari Cerita Jakarta”, Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno mengatakan bahwa sekarang adalah saatnya menyusun kembali hubungan kita dengan kota Jakarta. Jangan sampai orang Betawi asli justru menjadi figuran dalam cerita kota Jakarta di masa depan. (Meiliani Fauziah)
____
Biodata Penulis :
Meiliani Fauziah, Psikoterapis profesional yang menulis saat jeda praktik dan persiapan Kejurnas Umum Panahan. Karya bertema lingkungan yang diterbitkan antara lain “Mainanku Terlalu Banyak” (Luana Publishing, 2024) dan cerita pendek pada antologi Langgam Institut. Pengalamannya tinggal di kampung Betawi, menjadi inspirasi cerita “Warisan Engkong”, terpilih dalam antologi “Mencari Cerita Jakarta”, inisiatif Pemprov DKI Jakarta. Penulis bisa dihubungi di email meilianifau@gmail.com atau IG @meilianifauziah.